Selasa, 18 Februari 2014

Hidup (Katanya) Pencarian

Awal kariernya di NBA (National Basketball League), Steve Nash tidak terlihat sebagai pemain bintang. Setelah "dibuang" ke Dallas Mavericks, barulah ia memulai kisah sebagai seorang legenda. If you don't know him, visit here. Elo juga bisa mampir ke sini untuk melihat statistik permainannya. 

Evan Turner, guard Philadelphia 76ers, pada masa kecilnya sakit-sakitan. Baca kisahnya di majalah Mainbasket edisi #18 (Februari 2014). Dan, siapa yang menyangka kalau LeBron "The King" James dulu tidak mampu membeli sepatu basket?

Kisah di atas hanya sedikit dari banyak kisah di dunia basket. Gue menyadari kalau manusia harus bekerja keras, terutama untuk cita-citanya. Mungkin di awal kisah, gue bakal menemukan banyak rintangan. Gue menggambarkan rintangan itu sebagai tembok. Gue punya banyak pilihan menghadapi tembok yang menghalangi jalan menuju jalan yang lebih baik. Tentunya menyerah bukan opsi yang bakal gue pilih. Gue pikir, kita bisa memanjat tembok, meruntuhkannya, atau mencari jalan lain. Pepatah lama, banyak jalan menuju Roma.

Apa yang bakal kita lakukan setelah jalan itu terbuka?
Tembok telah dilalui, jalan yang terbuka adalah kesempatan. Pilihan selanjutnya adalah take it or leave it? Kesempatan terbuka lebar, gue ambil, maka akan ada hasilnya. Kesempatan terbuka lebar, gue tinggal, maka hasilnya pun tetap ada. Akan ada hasil dari pilihan yang gue ambil, positive or negative. Gue gak akan tahu apa yang bakal terjadi sebelum pilihan itu diambil.

Sementara itu, waktu terus berjalan. Kehidupan membingungkan gue dengan berbagai pilihan. Ingat! Tuhan membimbing manusia menuju arah yang lebih baik. Ingat pula! Manusia yang menjalankan kehidupan ini. Apa pun pilihan gue, ada konsekuensinya.

Well, manusia itu pelupa. Lupa kalau punya banyak pilihan. Lupa kalau punya Tuhan. Lupa kalau mereka hanya manusia. Kaya gue, gue pelupa. Lupa, untuk apa gue berusaha menjalani hidup? Lupa, untuk siapa gue berusaha? Gue ini seorang manusia yang kehilangan sesuatu yang bahkan diri sendiri pun tidak tahu. Gue seperti mencari sesuatu yang membuat gue hidup. Bukan cuma sebentuk daging berjalan. Hidup itu pencarian. Dengan semua omong kosong yang gue tulis di atas, pada akhirnya gue bingung tulisan ini untuk apa. Gue lupa untuk apa gue menulis. Mungkin gue mencari penyembuhan lewat tulisan. Gue...frustasi
Heal me, I'm heartsick!



Sabtu, 11 Januari 2014

Japres Tanpa Prestasi

Di sebuah SMA, sebut saja Sekolah X, menerima siswa melalui sebuah jalur yang gue anggap instan. Jalur masuk tersebut adalah jalur prestasi (japres). Entah seperti apa prosesnya, yang gue tahu siswa dari berbagai SMP dipilih untuk masuk ke Sekolah X tersebut tanpa tes (ujian masuk). Dengan hanya modal prestasi di SMP, siswa terpilih bisa masuk ke Sekolah X tanpa susah payah. YES, TANPA SUSAH PAYAH!

Sebagai siswa terpilih, seharusnya ada tanggung jawab dari yang bersangkutan. Sudah masuk tanpa tes, tapi tidak kenal tanggung jawab? Kalau kata Nagabonar, "APA KATA DUNIA?"

Untuk mencapai tujuan memang tidak instan.  Tanpa ada usaha, bisa jadi tujuan yang ingin dicapai tidak akan bisa diraih. Apalagi kasusnya seperti yang gue temui. Ada sekumpulan siswa japres yang tidak kenal tanggung jawab. Sekumpulan siswa tersebut bergabung dalam sebuah tim basket. Dalam beberapa pertandingan terakhir, tidak menorehkan prestasi apa pun. Padahal siswa yang bersangkutan masuk ke Sekolah X lewat japres. LEWAT JAPRES!

Katanya sih masuk Sekolah X karena prestasi basket masa SMP. Ya, masa lalu memang tinggal kenangan. Kejayaannya nggak selalu bisa dibawa ke masa depan. Euforianya, mungkin, hanya tercipta saat itu dan terkenang dalam bingkai-bingkai foto. Di masa depan, apa pun bisa terjadi. Tinggal pilih mau jadi apa, pecundang atau pemenang?

Hal yang gue sayangkan adalah soal kelupaan tanggung jawab. Beberapa dari mereka malah suka datang terlambat pada saat latihan. Tidak menunjukan tanggung jawab sebagai siswa japres. Malahan di antara mereka ada yang keluar dari tim basket. Dulu mereka dipilih dan masuk ke Sekolah X supaya memperkuat tim basket. Sekarang malah keluar? Nagabonar bilang, "APA KATA DUNIA?"

Japres tanpa prestasi ini, mungkin, soal waktu. Kaya apa yang gue bilang, di masa depan apa pun bisa terjadi. Mungkin di masa yang akan datang mereka bakal menorehkan prestasi. At least, terakhir kali gue mampir ke latihan mereka, malah tidak ada perkembangan. Bukan cuma soal tanggung jawab, niat untuk menjadi seorang juara pun nggak sekuat omongannya. Sama kaya politikus yang mengumbar janji, sekumpulan siswa japres ini pun pengumbar janji. Dulu mereka bilang ingin jadi juara. Nyatanya latihan pun leha-leha. Apa japres ini bakal jadi generasi pengumbar janji berikutnya? Gue harap, sih, nggak.

Ya, harapan gue untuk anak-anak muda ini adalah menjadi the next champion. Japres bukan cuma title, tapi sesuatu yang menunjukan kalau sebutan itu adalah kebanggaan. Melalui proses menuju cita-cita yang bukan bualan. Pada akhirnya, gue berkaca diri. Ternyata gue pun seorang pemuda penerus bangsa. Meski bukan seorang japres, gue punya tanggung jawab sebagai anak bangsa untuk membawa nama baik negaranya. 

ARE YOU READY TO BE THE NEXT GOLD GENERATION?