Selasa, 26 November 2013

Satu Bagian Puzzle Kehidupan

"What's the most important thing in life? To me, it's FAMILY...If you take away the fame & fortune they're the ones that will always be there" @drose

Gue lahir dari keluarga biasa. Yang membuatnya luar biasa adalah kata "keluarga" itu sendiri. Satu kata biasa yang sebenarnya luar biasa. Gak perlu mempersoalkan kata, pikirkan tentang rasa. Apa semua orang memilikinya?

Gue seorang anak, kakak, dan adik dalam sebuah keluarga kecil. Gue seorang anak rantau yang pergi dari rumah. Menuntut ilmu di tanah orang. Kadang gue tumbang di jalan kehidupan. Satu hal yang membuat gue kuat adalah...my family are there, in our home.

Selasa, 26 November 2013
Gue mengirimkan pesan singkat pada Ibu. Baru sadar, sudah lama tak bersua. Apa kabar di sana, Ibu? Doa menyertaimu selalu. Everything will be fine. Gue bakal balik setelah ngerasa semua urusan kali ini, di sini, di perantauan, selesai.

Dalam renungan malam...
Dulu, pernah ada sebuah mimpi. Cerita tentang seorang "atlit" yang kini tumbang. Ia memilih untuk mengubah jalan. Jalan yang ia pilih adalah jurnalistik. Sekarang ia menimba ilmu di sebuah universitas di Indonesia. Berusaha untuk tetap mencintai sesuatu dengan cara yang berbeda. Dia adalah gue.

Ya, dulu gue seorang atlit basket. Everyday I'm ballin' and alive. Gue merasakan gairah hidup dalam setiap menetesnya keringat. Gue ngerasa keren di lapangan. Nomor punggung gue 13. Gue bangga memakai jersey. Hingga akhirnya gue memutuskan untuk berhenti. Menyimpan kenangan, membukanya di lain waktu.

I LOVE BASKETBALL
Gak bisa nggak, gue suka banget sama olahraga satu ini. Gue gak bisa berhenti mencintai basket. Berhenti menjadi atlit, gak berarti berhenti mencintai basket. Hanya cara mencintai yang berbeda. Gue hari ini, bukan gue yang dulu. Gue yang biasa ada di lapangan, kali ini ada di luar lapangan. Hanya bisa menonton, membaca, mencari tahu dan menceritakan apa yang gue lihat.

Gue belajar jurnalistik. Gue belajar untuk menjadi seorang wartawan olahraga. Gue berusaha untuk bisa menceritakan kisah-kisah di lapangan. Membawa kisah-kisah tersebut ke luar lapangan supaya orang tahu, ada berbagai warna dalam satu permainan.

Saat gue mengubah haluan itu, yang gue pikirkan adalah soal bisa dan gak bisa. Gue pernah merasa pesimis dengan keputusan gue. Gue pernah berada pada titik jenuh. Saat itu, kata adalah obat mujarab untuk seorang pesakitan. Sederhana, tapi berisi. Ibu berkata, "Gagah yang pilih, Gagah yang jalani. Semua mendoakan dari rumah."

Luar biasa! Mengapa tidak? Kata-kata dan doa menyertai gue. Mereka menghargai keputusan gue meski pun gue yakin, tidak ada seorang pun dari mereka yang tahu alasan gue memilih jurnalistik. Mereka cukup percaya dengan apa yang gue lakukan. Menjawab kepercayaan mereka, gue sedang berusaha. 

Keluarga buat gue bukan hanya tempat untuk pulang. Ada sesuatu yang lebih dari itu. Tidak ada kata yang bisa melukiskan sebuah kehangatan. Hanya ada rasa that something personal. Hanya gue yang tahu. Keluarga adalah kekuatan. Potongan puzzle yang membentuk kehidupan. Fondasi yang selalu ada untuk menopang semangat berkarya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar